Keberhasilan seorang atlet dalam menjaga performa puncaknya sepanjang pertandingan sangat bergantung pada apa yang masuk ke dalam tubuhnya, terutama asupan cairan. Menyadari hal krusial ini, Perbasi Malang secara resmi mengadopsi sistem hidrasi atlet yang mengacu pada standar Liga Jerman atau BBL. Jerman dikenal sebagai negara yang sangat disiplin dalam menerapkan sains olahraga, termasuk dalam manajemen cairan tubuh untuk mencegah penurunan fungsi kognitif dan fisik. Dengan langkah ini, Malang berkomitmen untuk meningkatkan daya tahan pemainnya agar tetap tajam hingga detik terakhir pertandingan.
Sistem hidrasi ala Liga Jerman ini bukan sekadar tentang minum air saat merasa haus, melainkan sebuah protokol medis yang sangat terukur. Di Malang, setiap atlet kini menjalani tes keringat atau sweat test untuk mengetahui berapa banyak cairan dan elektrolit yang hilang dari tubuh mereka selama sesi latihan intensif. Berdasarkan data tersebut, tim medis Perbasi Malang menyusun rencana hidrasi personal bagi setiap pemain. Ada atlet yang membutuhkan asupan natrium lebih tinggi, dan ada pula yang memerlukan jenis minuman isotonik dengan kandungan glukosa tertentu. Standar ini memastikan bahwa keseimbangan kimiawi dalam tubuh atlet tetap terjaga dengan sempurna.
Penerapan sistem hidrasi ini juga mencakup pengaturan waktu minum yang sangat ketat, baik sebelum, saat, maupun sesudah pertandingan. Dalam basket yang memiliki tempo sangat cepat, dehidrasi ringan sebanyak dua persen saja dapat menurunkan akurasi tembakan dan kecepatan reaksi secara drastis. Oleh karena itu, staf kepelatihan di Malang kini memastikan bahwa setiap pemain mendapatkan asupan cairan secara berkala di sela-sela pergantian pemain atau saat time-out. Perbasi Malang ingin menghilangkan kebiasaan lama di mana atlet hanya minum seadanya, dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih saintifik untuk mendukung performa atlet di lapangan.
Salah satu fokus unik dari standar Jerman ini adalah edukasi mengenai jenis cairan yang dikonsumsi. Atlet di Malang diberikan pemahaman bahwa tidak semua minuman sehat cocok untuk dikonsumsi saat bertanding. Penggunaan minuman berwarna atau bersoda sangat dilarang dalam protokol ini karena dapat mengganggu sistem pencernaan dan menyebabkan lonjakan gula darah yang tidak stabil. Sebaliknya, mereka diarahkan untuk mengonsumsi larutan elektrolit yang dirancang khusus untuk mempercepat penyerapan air ke dalam sel otot. Dengan kondisi otot yang terhidrasi dengan baik, risiko kram dan cedera otot lainnya dapat diminimalisir secara signifikan.