Dalam sejarah kompetisi basket di Jawa Timur, tim-tim asal Malang sering kali dikenal sebagai tim yang kuat namun kerap terjebak dalam posisi kedua di babak final. Fenomena yang sering disebut masyarakat sebagai Kutukan Runner-Up ini menjadi perhatian serius bagi jajaran pengurus kota. Untuk memutus rantai kegagalan di laga puncak, Perbasi Malang mengambil langkah strategis dengan melibatkan tenaga ahli psikologi olahraga. Fokus utamanya adalah melakukan Bedah Mentalitas bagi para pemain agar memiliki daya juang yang lebih stabil dan mentalitas juara yang tak tergoyahkan saat menghadapi momen krusial di lapangan.
Kegagalan berulang kali di partai final sering kali bukan disebabkan oleh faktor teknis atau strategi pelatih, melainkan adanya beban mental yang tidak terlihat. Seorang Psikolog yang bekerja sama dengan tim di Malang menjelaskan bahwa ketakutan akan kegagalan (fear of failure) sering kali membuat otot-otot pemain menjadi tegang dan akurasi tembakan menurun drastis di menit-menit akhir pertandingan. Melalui program pembinaan mental yang intensif, para atlet diajarkan cara mengelola ekspektasi dan tetap fokus pada proses permainan, bukan hanya pada hasil akhir. Menghapus stigma Kutukan Runner-Up membutuhkan restrukturisasi cara berpikir atlet secara mendalam.
Proses Bedah Mentalitas ini dilakukan melalui sesi konseling kelompok dan individu yang rutin diadakan di sela-sela jadwal latihan fisik. Para pemain diajak untuk memvisualisasikan kemenangan dan membangun kepercayaan diri kolektif bahwa mereka mampu melampaui batas yang selama ini menghambat. Perbasi Malang menyadari bahwa juara sejati dibentuk dari pikiran sebelum dibuktikan di lapangan kayu. Dengan memperkuat ketahanan mental (mental toughness), atlet tidak akan mudah hancur secara emosional ketika lawan berhasil mengejar ketertinggalan poin. Ketenangan adalah kunci untuk menghentikan siklus kegagalan di partai final.
Selain sesi di dalam ruangan, teknik psikologi juga diterapkan langsung dalam simulasi pertandingan bertekanan tinggi. Pelatih sengaja menciptakan situasi-situasi sulit di akhir kuarter untuk melihat bagaimana respon pemain. Hasil evaluasi dari Psikolog kemudian digunakan untuk memberikan masukan kepada tim pelatih mengenai siapa pemain yang paling siap secara mental untuk memegang bola di detik-detik akhir. Pendekatan berbasis data psikologis ini membuat pemilihan pemain tidak lagi hanya berdasarkan statistik poin, tetapi juga pada stabilitas emosi. Perbasi Malang ingin memastikan bahwa setiap pemain yang turun ke lapangan memiliki “insting pembunuh” untuk menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan.